Minggu, 03 Maret 2013

makalah PBL (project based learning)



A.      Pengertian

Project Based Learning merupakan sebuah model pembelajaran yang sudah banyak dikembangkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Project Based Learning bermakna sebagai pembelajaran berbasis proyek. Definisi secara lebih komperehensif tentang Project Based Learning menurut The George Lucas Educational Foundation (2005) adalah sebagai berikut :

1.      Project-based learning is curriculum fueled and standards based.  Project Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menghendaki adanya standar isi dalam kurikulumnya. Melalui Project Based Learning, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (aguiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen mayor sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah displin yang sedang dikajinya (The George Lucas EducationalFoundation: 2005).

2.      Project-based learning asks a question or poses a problem that each student can answer. Project Based Learning adalah model pembelajaran yang menuntut pengajar dan atau peserta didik mengembangkan pertanyaan penuntun (a guiding question). Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka Project Based Learning memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Hal ini memungkinkan setiap peserta didik pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan penuntun (The George Lucas Educational Foundation: 2005).

3.      Project-based learning asks students to investigate issues and topics addressing real-world problems while integrating subjects across the curriculum. Project Based Leraning merupakan pendekatan pembelajaran yang menuntut peserta didik membuat “jembatan” yang menghubungkan antar berbagai subjek materi. Melalui jalan ini, peserta didik dapat melihat pengetahuan secara holistik. Lebih daripada itu, Project Based Learning merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik (The George Lucas Educational Foundation: 2005).

4.      Project-based learning is a method that fosters abstract, intellectual tasks to explore complex issues. Project Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang memperhatikan pemahaman. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi dan mensintesis informasi melalui cara yang bermakna. (The George Lucas Educational Foundation: 2005).

Menurut Cord et al. (Khamdi, 2007) pembelajaran berbasis proyek adalah suatu model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Pembelajaran berbasis proyek adalah penggunaan proyek sebagai model pembelajaran. Proyek-proyek meletakkan siswa dalam sebuah peran aktif yaitu sebagai pemecah masalah, pengambil keputusan, peneliti, dan pembuat dokumen.

Ide inti dari pembelajaran berbasis proyek adalah bahwa masalah dunia nyata menangkap minat siswa dan memprovokasi pemikiran yang serius sebagai siswa memperoleh dan menerapkan pengetahuan baru dalam konteks pemecahan masalah. Guru memainkan peran fasilitator, bekerja sama dengan siswa untuk menyusun pertanyaan berharga, penataan tugas bermakna, pembinaan baik pengembangan pengetahuan dan keterampilan sosial, dan hati-hati menilai apa yang siswa telah belajar dari pengalaman. Advokat menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek membantu mempersiapkan siswa untuk keterampilan berpikir dan kolaborasi yang dibutuhkan di tempat kerja.





         
B.      Sejarah Perkembangan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Ketika digunakan pada abad ke-21 alat / keterampilan  , Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) adalah lebih dari sekedar pencarian web-atau tugas internet penelitian. Dalam hal ini jenis proyek, siswa diharapkan untuk menggunakan teknologi dengan cara yang bermakna untuk membantu mereka menyelidiki, berkolaborasi, menganalisis, mensintesis dan menyajikan pembelajaran mereka. Dimana teknologi diresapi seluruh proyek, istilah yang lebih tepat untuk pedagogi dapat disebut sebagai iPBL (copyright 2006, ITJAB ), untuk mencerminkan penekanan alat teknologi / keterampilan DAN konten akademis.

Ini 2.002 Georgia Departemen Pendidikan inisiatif dikembangkan oleh tim teknologi instruksional. Ketika digunakan secara efektif, penelitian telah menunjukkan PBL, dan iPBL, membantu guru membuat kelas berkinerja tinggi di mana guru dan siswa membentuk komunitas belajar yang kuat. Tujuannya adalah untuk kehidupan nyata konteks dan teknologi untuk memenuhi dan mencapai hasil dalam kurikulum melalui pendekatan inkuiri berbasis. Pendekatan PBL dirancang untuk mendorong siswa untuk menjadi pekerja mandiri, pemikir kritis, dan pembelajar seumur hidup. Banyak guru dan penelitian yang terlibat dalam PBL percaya itu membuat sekolah lebih bermakna karena menyediakan investigasi mendalam dari dunia nyata topik dan isu-isu signifikan layak perhatian setiap anak individu dan investigasi.

Contoh lain dari sebuah sekolah interdisipliner sukses PBL terletak di Pomona, California. Sekolah Internasional Politeknik Tinggi, biasa disingkat I-Poly Sekolah Tinggi, berasal pada tahun 1993, adalah sekolah publik yang tinggi perguruan persiapan (9-12) terletak di California State Polytechnic University, Pomona (Cal Poly Pomona) kampus dan dioperasikan oleh Los Angeles County Dinas Pendidikan dalam hubungannya dengan College of Pendidikan dan Studi Integratif di universitas. I-Poly juga merupakan pelatihan guru situs bekerja sama dengan Cal Poly Pomona
           
            Pada abad XXI yang ditandai oleh peningkatan kompleksitas peralatan teknologi, dan munculnya gerakan restrukturisasi korporatif yang menekankan kombinasi kualitas teknologi dan manusia, menyebabkan dunia kerja akan memerlukan orang yang dapat mengambil inisiatif, berpikir kritis, kreatif, dan cakap memecahkan masalah. Hubungan “manusia-mesin” bukan lagi merupakan hubungan mekanistik akan tetapi merupakan interaksi komunikatif yang menuntut kecakapan berpikir tingkat tinggi.
           
            Kecenderungan-kecenderungan tersebut mulai direspon oleh dunia pendidikan di Indonesia, yang semenjak tahun 2000 menerapkan empat pendekatan pendidikan, yakni :
1.   Pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life skills)
2.   Kurikulum dan pembelajaran berbasis kompetensi
3.   Pembelajaran berbasis produksi
4.   Pendidikan berbasis luas (broad-based education)
           
            Orientasi baru pendidikan itu berkehendak menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga pendidikan kecakapan hidup, dengan pendidikan yang bertujuan mencapai kompetensi (selanjutnya disebut pembelajaran berbasis kompetensi), dengan proses pembelajaran yang otentik dan kontekstual yang dapat menghasilkan produk bernilai dan bermakna bagi mahasiswa, dan pemberian layanan pendidikan berbasis luas melalui berbagai jalur dan jenjang pendidikan yang fleksibel multi-entry-multi-exit (Depdiknas, 2002, 2003).
           
            Oleh sebab itu secara tidak langsung terbentuk open-ended contextual activity-based learning, sebagai bagian dari proses pembelajaran yang memberikan penekanan kuat pada pemecahan masalah yang dihasilkan dari suatu usaha kolaboratif (Richmond & Striley, 1996), yang dilakukan dalam proses pembelajaran dalam periode tertentu (Hung & Wong, 2000). Hal ini didefinisikan Blumenfeld et.al. (1991) sebagai model belajar berbasis proyek (project-based learning) yaitu proses pembelajaran yang berpusat pada proses relatif berjangka waktu, berfokus pada masalah, unit pembelajaran bermakna dengan mengitegrasikan konsep-konsep dari sejumlah komponen pengetahuan, atau disiplin, atau lapangan studi.
           
            Pendidikan berorientasi kecakapan hidup, pembelajaran berbasis kompetensi, dan proses pembelajaran yang diharapkan menghasilkan produk yang bernilai, menuntut lingkungan belajar yang kaya dan nyata (rich and natural environment), yang dapat memberikan pengalaman belajar dimensi-dimensi kompetensi secara integratif. Lingkungan belajar yang dimaksud ditandai oleh:
1. Situasi belajar, lingkungan, isi dan tugas-tugas yang relevan, realistik, otentik, dan menyajikan kompleksitas alami “dunia nyata”.
2.   Sumber-sumber data primer digunakan agar menjamin keotentikan dan kompleksitas dunia nyata.
3.   Mengembangkan kecakapan hidup dan bukan reproduksi pengetahuan.
4.   Pengembangan kecakapan ini berada di dalam konteks individual dan melalui negosiasi sosial, kolaborasi, dan pengalaman.
5.   Kompetensi sebelumnya, keyakinan, dan sikap dipertimbangkan sebagai prasyarat.
6.   Keterampilan pemecahan masalah, berpikir tingkat tinggi, dan pemahaman mendalam ditekankan.
7.   Mahasiswa diberi peluang untuk belajar secara apprenticeship di mana terdapat penambahan kompleksitas tugas, pemerolehan pengetahuan dan keterampilan.
8.   Kompleksitas pengetahuan dicerminkan oleh penekanan belajar pada keterhubungan konseptual, dan belajar interdisipliner.
9.   Belajar kooperatif dan kolaboratif diutamakan agar dapat mengekspos mahasiswa ke dalam pandangan-pandangan alternatif; dan
10. Pengukuran adalah otentik dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran (Simons, 1996; Willis, 2000).
           
            Memperhatikan karakteristiknya yang unik dan komprehensif, model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) cukup potensial untuk memenuhi tuntutan pembelajaran tersebut. Model Pembelajaran Berbasis Proyek membantu mahasiswa dalam belajar :
1.   Pengetahuan dan keterampilan yang kokoh dan bermakna-guna (meaningful-use) yang dibangun melalui tugas-tugas dan pekerjaan yang otentik (CORD, 2001; Hung & Wong, 2000; Myers & Botti, 2000; Marzano, 1992).
2.   Memperluas pengetahuan melalui keotentikan kegiatan kurikuler yang terdukung oleh proses kegiatan belajar melakukan perencanaan (designing) atau investigasi yang open-ended, dengan hasil atau jawaban yang tidak ditetapkan sebelumnya oleh perspektif tertentu.
3.   Dalam proses membangun pengetahuan melalui pengalaman dunia nyata dan negosiasi kognitif antarpersonal yang berlangsung di dalam suasana kerja kolaboratif.
C.      Prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
           
            Pengimplementasian pembelajaran berbasis proyek tidak terlepas dari kurikulum, pertanggungjawaban, realisme, belajar aktif, umpan balik, pengetahuan umum, pertanyaan yang memacu, investigasi konstruktif, serta otonomi. Purnawan (Muliawati, 2010:11) mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis proyek mengacu pada hal-hal sebagai berikut:
1.      Curriculum, memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.
2.      Responsibility, Project Based Learning menekankan responbility dan answerability para siswa ke diri dan panutannya.
3.      Realism, kegiatan siswa difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya.
4.      Active learning, menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan siswa untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri.
5.      Feedback, diskusi, presentasi dan evaluasi terhadap para siswa menghasilkan umpan balik yang berharga, ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman.
6.      General skill, pembelajaran berbasis proyek dikembangkan tidak hanya pada keterampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self management.
7.      Driving questions, pembelajaran berbasis proyek difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu siswa untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai.
8.      Constructive investigations, sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para siswa.
Autonomy, proyek menjadikan aktivitas siswa sangat penting





D.      Strategi dalam Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
           
Strategi- strategi yang digunakan dalam metode pembelajaran berbasis proyek adalah sebagai berikut :
           
1.      Authenticity
Authenticity merupakan langkah awal da­lam perancangan pembelajaran dengan pem­belajaran berbasis proyek. Dalam konsep au­thenticity, proyek atau tugas yang dikerjakan siswa harus memiliki makna bagi siswa. Suatu tugas yang memiliki makna ada­lah tugas dimana siswa merasa bahwa tugas tersebut sangat berguna bagi siswa setelah ia terjun di dunia kerja. Tugas tersebut terkait dengan kebutuhan dunia kerja, tugas tersebut dapat dijadikan bekal untuk kehidu­pannya. Dengan dipahaminya “kebermak­naan” suatu tugas, maka motivasi siswa untuk menyelesaikan tugas akan meningkat (ISTE, 2002), dengan demikian siswa akan dapat menyelesaiakan tugasnya dan pada ak-hirnya siswa akan mampu menghasilkan sesuatu dari tugas tersebut. Oleh karena itu tugas seorang pengajar dalam tahap ini adalah menjelaskan kebermaknaan suatu tugas bagi siswa; pengajar harus bisa memilih dan memberi tugas yang bermakna untuk siswa. Pada siklus I pada proses penelitian ini, masalah authenticity, merupakan tahap awal yang ditekankan pada siswa; dalam tahap ini pengajar harus mampu menjelaskan keber­maknaan tugas, baik dari segi teknik maupun ekonomi.

2.      Academic Rigor
Academin rigor adalah penerapan konsep-konsep akademis dalam menyelesaikan suatu tugas. Dalam pembelajaran berbasis proyek academic rigor, merupakan bagian yang amat penting karena mengharuskan siswa menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam me­mecahkan masalah yang dihadapi dalam pe­nyelesaian suatu tugas. Pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek akan melatih dan membiasakan siswa untuk mene-rapkan pendekatan ilmiah dalam memecahkan masalah dalam kehidupan. ISTE (2002) men­gatakan bahwa dalam metode pembelajaran berbasis proyek siswa dilatih melakukan penelitian, menggunakan berbagai sumber in­formasi dan mampu berpikir lintas keilmuan. Dalam tahap ini pengajar harus mampu me-rancang pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk mengembangkan dan meng­gunakan pendekatan ilmiah dalam memecah­kan masalah yang dihadapi.

3.      Ap­plied Learning
Aplied learning adalah usaha untuk meng-arahkan kegiatan belajar siswa ke arah situasi belajar yang mengacu pada kehidupan nyata yang berada di luar lingkungan sekolah dan Kraf (1998) menyebut sebagai “real world oriented”. Salah satu bentuk belajar dalam ke­hidupan nyata adalah agar siswa mampu bekerja dalam organisasi modern yang menun­tut disiplin tinggi, penggunaan teknologi yang tepat, dan mampu berkomunikasi dengan re­kan kerja, dan inilah yang disebut dengan real learning dan real work (Steinberg, 2001).

4.      Active Exploration
Active exploration adalah usaha untuk mendorong siswa agar aktif melakukan ekplorasi/penelitian, dengan menggunakan waktu secara efektif. Dalam tahap ini peng-ajar harus mampu memacu dan sekaligus mendorong siswa untuk selalu berusaha memecahkan masalah secara kontinyu dan jangan putus asa. Menurut Buck Institute for Education (2001) dalam pembelajaran berbasis proyek siswa harus mampu sebagai “dis­coverer, integrator, and presenter of ideas. Dalam pelaksanaan penelitian ini, mendorong sikap dan tindakan siswa agar selalu active ex­ploration, ternyata merupakan sesuatu yang amat sulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh perilaku siswa selama ini lebih banyak bersikap pasif dalam setiap pembelajaran, dan sering dijumpai pengajar hanya bersikap seba­gai penyampai materi belaka, dan kurang men­dorong keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

5.      Adult Rela­tionship
Adult Relationship, terkait usaha memacu siswa agar mampu belajar dari orang lain yaitu pada para praktisi expert dan bahkan pada para pekerja yang terkait dengan masalah yang dikaji. Dalam proses adult relationship ini para pengajar harus mendorong siswa untuk mampu bertanya, berdiskusi dan juga menga­jak merancang serta menilai kerja siswa. Dengan model belajar yang demikian diharap­kan siswa memiliki pemahaman, penge­tahuan dan keterampilan yang mendalam ter­hadap tugas yang sedang dikajinya.

6.      Assessment
Assesment, adalah usaha agar siswa mampu melakukan penilaian secara teratur terhadap proses belajar yang dilakukan. Di samping itu siswa juga harus mampu mengembangakan kriteria penilaian sesuai standar yang berlaku di dunia kerja. Penilain yang harus dilakukan siswa mencakup prosedur kerja/metode yang dilakukan, waktu yang digunakan, hasil kerja dan hal-hal lain yang terkait dengan penyelesian tugasnya. Dari hasil penilaian yang dilakukan siswa di­harapkan siswa dapat melihat kekuran­gan-kekurangannya, mampu memperbaikinya pada proses berikutnya. Dalam salah satu kri­teria pembelajaran berbasis proyek Kraf (1998) menyebut hal ini sebagai “student self-assesment of learning is encourage.


E.      Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
           
            Secara umum karakteristik project based learning mencakup isi, aktivitas, kondisi dan hasil. Secara operasional hal tersebut dapat di­jelaskan sebagai berikut:
1.   Karakteristik isi
Me­muat ide-ide seperti, masalah disajikan dalam bentuk keutuhan kompleksitas, siswa menemukan hubungan anta ride secara in-displiner, siswa berjuang dengan am­biguitas, dan pertanyaan dunia nyata dan menarik perhatian siswa.

2.   Karakteristik aktivitas
      Memuat ide-ide investigatif seperti, siswa melakukan investigasi selama periode tertentu, siswa dihadapkan pada suatu kesulitan, pencarian sumber dan pemecahan masalah dalam merespon tantan­gan secara keseluruhan, siswa mem­buat hubungan/keterkaitan antar ide-ide dan memperoleh ketrampilan baru seperti melaku­kan kerja pada tugas-tuga yang berbeda, siswa menggunakan perlengkapan.alat otentik/sesungguhnya (misalnya, teknologi/sumber-sumber nyata), dan siswa melakukan umpan balik (refleksi) tentang nilai idenya dari ahli lain/melalui tes realistik.

3.   Karakteristik kondisi
      Dukungan terhadap otonomi siswa seperti, siswa mengam­bil bagian dalam masyarakat inkuiri dan meneruskan latihan kerjanya di dalam konterk sosial, siswa diminta memperagakan tingkah laku manajemen waktu dan tugasnya baik secara individu maupun kelompok,  siswa mengarahkan kerjanya sendiri dan melakukan kontrol belajarnya, dan siswa melakukan simulasi kerja profesional dari seorang sarjana, peneliti, engineer dan praktisi-praktisi lainnya.

4.   Karakteristik Hasil
Produk nyata seperti, siswa menghasilkan produk intelektual yang kom­pleks yang menunjukkan hasil belajarnya (misalnya model, benda nyata, laporan dan sejenis­nya), siswa terlibat dalam melakukan self assessment,  siswa bertanggung jawab terhadap pilihannya tentang bagaimana akan mendemonstrasikan kompetensi mereka, dan, siswa memperagakan kompetensi nyata mereka seperti: keterampilan sosial, keterampilan manajemen, keterampilan teknik dan sebagainya. Sebagai sebuah model pembelaja­ran, Pembelajaran Berbasis Proyek mempunyai beberapa prinsip, yaitu (1) centrality; (2) driving question; (3) contructive investigation; (4) autono­my; dan (5) realism (Thomas, 2000).


F.      Ciri-Ciri Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
    
     Pembelajaran berbasis proyek berangkat dari pandangan konstruktivism yang mengacu pada pendekatan kontekstual (Khamdi, 2007). Dengan demikian, pembelajaran berbasis proyek merupakan metode yang menggunakan belajar kontekstual, dimana para siswa berperan aktif untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, meneliti, mempresentasikan, dan membuat dokumen. Pembelajaran berbasis proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan kompleks yang diperlukan siswa dalam melakukan investigasi dan memahaminya.
     
      Ciri pembelajaran berbasis proyek menurut Center For Youth Development and Education-Boston (Muliawati, 2010:10), yaitu:
1.      Melibatkan para siswa dalam masalah-masalah kompleks, persoalan-persoalan di dunia nyata, di mana pun para siswa dapat memilih dan menentukan persoalan atau masalah yang bermakna bagi mereka.
2.      Para siswa diharuskan menggunakan penyelidikan, penelitian keterampilan perencanaan, berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah saat mereka menyelesaikan proyek.
3.      Para siswa diharuskan mempelajari dan menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya dalam berbagai konteks ketika mengerjakan proyek.
4.      Memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dan mempraktekkan keterampilan pribadi pada saat mereka bekerja dalam tim kooperatif, maupun saat mendiskusikan dengan guru.
5.      Memberikan kesempatan para siswa mempraktekkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk kehidupan dewasa mereka dan karir (bagaimana mengalokasikan waktu , menjadi individu yang bertanggungjawab, keterampilan pribadi, belajar melalui pengalaman).
6.      Menyampaikan harapan mengenai prestasi/hasil pembelajaran; ini disesuaikan dengan standar dan tujuan pembelajaran untuk sekolah/negara.
7.      Melakukan refleksi yang mengarahkan siswa untuk berpikir kritis tentang pengalaman mereka dan menghubungkan pengalaman dengan pelajaran.
8.      Berakhir dengan presentasi atau produk yang menunjukkan pembelajaran dan kemudian dinilai;  kriteria dapat ditentukan oleh para siswa.


G.      Langkah – Langkah  Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
    
     Pada pendekatan Project Based Learning, pengajar berperan sebagai fasilitator bagi peserta didik untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan penuntun. Sedangkan pada kelas ”konvensional” pengajar dianggap sebagai seseorang yang paling menguasai materi dan karenanya semua informasi diberikan secara langsung kepada peserta didik. Pada kelas Project Based Learning, peserta didik dibiasakan bekerja secara kolaboratif, penilaian dilakukan secara autentik, dan sumber belajar bisa sangat berkembang. Hal ini berbeda dengan kelas ”konvensional” yang terbiasa dengan situasi kelas individual, penilaian lebih dominan pada aspek hasil dari pada proses, dan sumber belajar cenderung stagnan.
    
     Langkah-langkah pembelajaran dalam Project Based Leraning sebagaimana yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational Foundation (2005) terdiri dari :

1.      Start With the Essential Question Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relefan untuk para peserta didik (The George Lucas Educational Foundation : 2005).

2.      Design a Plan for the Project Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek (The George Lucas Educational Foundation : 2005).

3.      Create a Schedule Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyak, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara (The George Lucas Educational Foundation : 2005).

4.      Monitor the Students and the Progress of the Project Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting (The George Lucas Educational Foundation : 2005).

5.      Assess the Outcome Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masingmasing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya (The George Lucas Educational Foundation : 2005).

6.      Evaluate the Experienceb Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar danpeserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan  pada tahap pertama pembelajaran (The George Lucas Educational Foundation : 2005).

     Penerapan Project Based Learning telah menunjukan bahwa pendekatan tersebut sanggup membuat peserta didik mengalami proses pembelajaran yang bermakna, yaitu pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan faham konstruktivisme. Peserta didik diberi kesempatan untuk menggali sendiri informasi melalui membaca berbagai buku secara langsung, membuat presentasi untuk orang lain, mengkomunikasikan hasil aktivitasnya kepada orang lain, bekerja dalam kelompok, memberikan usul atau gagasannya untuk orang lain dan berbagai aktivitas lainnya. Semuanya menggambarkan tentang bagaimana semestinya orang dewasa belajar agar lebih bermakna.
           




H.      Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

1.         Kelebihan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Tidak satupun metode yang sempurna sehingga dapat dipakai untuk semua pembelajaran. Namun, ada beberapa kelebihan dari setiap metode. Adapun kelebihan dari penggunaan pembelajaran berbasis proyek menurut Kamdi (Muliawati, 2010:13) adalah sebagai berikut:
1.      Meningkatkan motivasi
      Laporan-laporan tertulis tentang proyek banyak yang mengatakan bahwa siswa tekun sampai lewat batas waktu, berusaha keras dalam mencapai proyek.

2.      Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
      Penelitian pada pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada bagaimana menemukan dan memecahkan masalah. Banyak sumber yang mendeskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.

3.      Meningkatkan kolaborasi
      Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikan keterampilan komunikasi. Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa, pertukaran informasi adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek. Teori-teori kognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskan bahwa belajar adalah fenomena social, dan bahwa siswa akan belajar lebih di dalam lingkungan kolaboratif.

4.     Meningkatkan keterampilan mengelola sumber
      Bagian dari menjadi  siswa yang independen adalah bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang kompleks. Pembelajaran berbasis proyek yang diimplementasikan secara baik memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.

2.         Kekurangan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Adapun kekurangan dari pembelajaran berbasis proyek menurut Anita (2007: 27) adalah sebagai berikut:
1.      Tiap mata pelajaran mempunyai kesulitan tersendiri, yang tidak dapat selalu dipenuhi di dalam proyek.
2.      Sukar untuk memilih proyek yang tepat.
3.      Menyiapkan tugas bukan suatu hal yang mudah.
4.      Sulitnya mencari sumber-sumber referensi yang sesuai.


I.       Peran Pembimbing/Pengajar dalam Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

            Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pembelajaran berbasis proyek peran dan tugas pengajar sangat jauh berbeda dengan peran dan tugas pengajar dalam pembelajaran konven­sional. Dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar diharapkan sebagai “resource provider and participant in learning activities,” berbeda dalam pembelajaran konvensional pengajar lebih sebagai “lecturer and director of instruction” dan dalam pembelajaran konvensional pengajar menganggap dirinya sebagai “expert” sedang dalam pembelajaran berbasis proyek pengajar harus mampu berperan sebagai “advisor/col­league” (Buck Institute for Education, 2001). Secara lebih rinci peran fasilitator adalah sebagai berikut :
1.   Mengatur kelompok dan menciptakan suasana yang nyaman.
2.   Memastikan bahwa sebelum mulai setiap kelompok telah memiliki seorang anggota yang bertugas membaca materi, sementara teman-temannya mendengarkan, dan seorang anggota yang bertugas mencatat informasi yang penting sepanjang jalannya diskusi.
3.   Memberikan materi atau informasi pada saat yang tepat, sesuai dengan perkembangan kelompok.
4.   Memastikan bahwa setiap sesi diskusi kelompok diakhiri dengan self-evaluation.
5.   Menjaga agar kelompok terus memusatkan perhatian pada pencapaian tujuan.
6.   Memonitor jalannya diskusi dan membuat catatan tentang berbagai masalah yang muncul dalam proses belajar, serta menjaga agar proses belajar terus berlangsung, agar tidak ada tahapan dalam proses belajar yang dilewati atau diabaikan dan agar setiap tahapan dilakukan dalam urutan yang tepat.
7.   Menjaga motivasi pelajar dengan mempertahankan unsur tantangan dalam penyelesaian tugas dan juga memberikan pengarahan untuk mendorong pelajar keluar dari kesulitannya.
8.   Membimbing proses belajar pelajar dengan mengajukan pertanyaan yang tepat pada saat yang tepat. Pertanyaan ini hendaknya merupakan pertanyaan terbuka yang mendorong pelajar mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai konsep, ide, penjelasan, sudut pandang, dan lain-lain.
9.   Mengevaluasi kegiatan belajar pelajar, termasuk partisipasinya dalam proses kelompok. Pengajar perlu memastikan bahwa setiap pelajar terlibat dalam proses kelompok dan berbagi pemikiran dan pandangan.
10. Mengevaluasi penerapan Project Based Learning yang telah dilakukan.
           
            Perubahan peran dan fungsi pengajar dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran pembelajaran berbasis proyek tentu bukan merupakan sesuatu yang mudah, khususnya bagi pengajar yang telah terbiasa dengan model pembelajaran konvensional. Bagi pengajar yang telah terbiasa dengan pembelajaran kon­vensional, perlu memahami hakekat dan filsa­fat pembelajaran berbasis proyek lebih men­dalam, dengan demikian diharapkan mampu memahami peran dan fungsinya sebagai pengajar.


J.       Dukungan Teoritik

            Pembelajaran Berbasis Proyek atau Belajar Berbasis Proyek adalah pendekatan pembelajaran yang merangkum sejumlah ide-ide pembelajaran, yang didukung oleh teori-teori dan penelitian substansial. Bagian ini mencoba mengetengahkan bahasan teoretik yang mendasari Pembelajaran Berbasis Proyek. Menurut Mayer (1992), dalam praktik pendidikan, terutama setengah abad terakhir, telah terjadi pergeseran teori-teori belajar, dari aliran teori belajar behavioristik ke kognitif, dari kognitif ke konstruktivistik.

            Implikasi pergeseran pandangan terhadap belajar dan pembelajaran tersebut adalah munculnya pandangan bahwa kurikulum sebagai body of knowledge atau keterampilan-keterampilan yang ditransfer adalah naif. Jika pandangan konstruktivis mengenai individu sebagai pengkonstruk pengetahuan mereka sendiri dapat diterima, maka mungkin lebih tepat memandang kurikulum sebagai serangkaian tugas dan strategi belajar. Oleh karena itu, perspektif kehidupan kelas pun menjadi berubah. Hakekat hubungan guru-siswa tidak lagi guru sebagai penjaja informasi dan siswa sebagai penerima informasi semata, tetapi guru lebih sebagai pembimbing dan pendamping berpikir kritis yang konstruktif. Lingkungan kelas dirancang untuk memberikan setting sosial yang mendukung konstruksi pengetahuan dan keterampilan (Driver & Leach, 1993).

            Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model pembelajaran yang didukung oleh atau berpijak pada teori belajar konstruktivistik. Strategi pembelajaran yang menonjol dalam pembelajaran konstruktivistik antara lain adalah strategi belajar kolaboratif, mengutamakan aktivitas siswa daripada aktivitas guru, mengenai kegiatan laboratorium, pengalaman lapangan, studi kasus, pemecahan masalah, panel diskusi, diskusi, brainstorming, dan simulasi (Ajeyalemi, 1993). Beberapa dari strategi tersebut juga terdapat dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, yaitu
1.      Strategi belajar kolaboratif
2.      Mengutamakan aktivitas siswa daripada aktivitas guru
3.      Mengenai kegiatan laboratorium
4.      Pengalaman lapangan
5.      Pemecahan masalah.

            Peranan guru yang utama adalah mengendalikan ide-ide dan interpretasi siswa dalam belajar, dan memberikan alternatif-alternatif melalui aplikasi, bukti-bukti, dan argumen-argumen.
           
            Dari berbagai karakteristiknya, Pembelajaran Berbasis Proyek didukung teori-teori belajar konstruktivistik. Dalam konteks pembaruan di bidang teknologi pembelajaran, Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dipandang sebagai pendekatan penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong pebelajar mengkonstruk pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman langsung. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek dibangun berdasarkan ide-ide pebelajar sebagai bentuk alternatif pemecahan masalah riil tertentu, dan pebelajar mengalami proses belajar pemecahan masalah itu secara langsung.

            Menurut banyak literatur, konstruktivisme adalah teori belajar yang bersandar pada ide bahwa pebelajar mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri di dalam konteks pengalaman mereka sendiri (Murphy, 1997; Brook & Brook, 1993, 1999; Driver & Leach, 1993; Fraser, 1995). Pembelajaran konstruktivistik berfokus pada kegiatan aktif pebelajar dalam memperoleh pengalaman langsung (“doing”), ketimbang pasif “menerima” pengetahuan. Dari perspektif konstruktivis, belajar bukanlah murni fenomena stimulus-respon sebagaimana dikonsepsikan para behavioris, akan tetapi belajar adalah proses yang memerlukan pengaturan diri sendiri (self-regulation) dan pembangunan struktur konseptual melalui refleksi dan abstraksi (von Glaserfeld, dalam Murphy, 1997). Kegiatan nyata yang dilakukan dalam proyek memberikan pengalaman belajar yang dapat membantu refleksi dan mendekatkan hubungan aktivitas dunia nyata dengan pengetahuan konseptual yang melatarinya yang diharapkan akan dapat berkembang lebih luas dan lebih mendalam (Barron, Schwartz, Vye, Moore, Petrosino, Zech, Bransford, & The Cognition and Technology Group at Vanderbilt, 1998). Hal ini menunjukkan bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek, yang mendasarkan pada aktivitas dunia nyata, berpotensi memperluas dan memperdalam pengetahuan konseptual dan prosedural (Gagne, 1985), yang pada khasanah lain disebut juga knowing that dan knowing how (Wilson, 1995). Knowing ‘that’ and ‘how’ is not sufficient without the disposition to ‘do’ (Kerka, 1997). Perluasan dan pendalaman pemahaman pengetahuan tersebut dapat diamati dengan mengukur peningkatan kecakapan akademiknya.

            Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek juga dilandasi oleh teori belajar konstruktif. Menurut Simons (1996) belajar konstruktif harus dilakukan dengan menumbuhkan upaya siswa membangun representasi memori yang kompleks dan kaya, yang menunjukkan tingkat terhubungan yang kuat antara pengetahuan semantik, episodik, dan tindakan.         Sebagaimana dinyatakan Simons (1996), representasi memori terbagi menjadi tiga jenis: representasi semantik, episodik, dan tindakan. Representasi semantik mengacu pada konsep dan prinsip dengan karakteriktik yang menyertainya, representasi episodik didasarkan pada pengalaman personal dan afektif, dan representasi tindakan mengacu pada hal-hal yang dapat dilakukan dengan menggunakan informasi semantik dan episodik, misalnya penyelesaian jenis masalah tertentu, dengan menggunakan pengetahuan tertentu. Idealnya, hubungan antar tiga jenis representasi pengetahuan tersebut kuat. Oleh karena itu, prinsip belajar konstruktif adalah menekankan usaha keras untuk menghasilkan keterhubungan tiga jenis representasi pengetahuan tersebut. Prinsip belajar konstruktif tersebut juga mendasari Pembelajaran Berbasis Proyek. Bagian-bagian dari prinsip belajar konstruktif seperti belajar yang berorientasi pada diskoveri, kontekstual, berorientasi masalah, dan motivasi sosial juga menjadi bagian-bagian prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek. Strategi belajar kolaboratif yang diposisikan amat penting dalam Pembelajaran Berbasis Proyek juga menjadi tekanan teoretik belajar konstruktif. Learning together with other learners can be a very powerful form of learning, in which learners help each other’s construction processes (Simons, 1996:294).

            Strategi belajar kolaboratif tersebut juga dilandasi oleh teori Vygotsky tentang Zone of Proximal Development (ZPD). Vygotsky merekomendasikan adanya level atau zona, di mana siswa dapat lebih berhasil tetapi dengan bantuan partner yang lebih bisa atau berpengalaman. Vygotsky mendifinisikan ZPD sebagai “jarak antara tingkat perkembangan aktual seperti ditunjukkan oleh kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dengan tingkat perkembangan potensial seperti ditunjukkan oleh kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih mampu (the distance between the actual development level as determined by independent problem-solving and the level of potential development as determined through problem-solving under adult guidance or in collaboration with more capable peers) (Gipps, 1994:24—25). Partner ini tidak mendekte apa yang harus dilakukan sejawat yang belajar padanya, akan tetapi mereka terlibat di dalam tindakan kolaboratif, demonstratif, modeling dan sejenisnya.

            Prinsip kontekstualisasi yang menjadi karakteristik penting dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, diturunkan dari ide dasar teori belajar konstruktivistik. Para konstruktivis mengatakan bahwa belajar adalah proses aktif membangun realitas dari pengalaman belajar.             Bagaimana pun, belajar tidak dapat terlempas dari apa yang sudah diketahui pebelajar dan konteks di mana hal itu dipelajari (Bednar, Cunningham, Duffy, & Perry, dalam Dunn, 1994). Para konstruktivis itu tidak menyangkal eksistensi (objektivitas) dunia nyata, akan tetapi dikatakannya bahwa makna apa yang kita bangun dari dunia nyata adalah indiosyncratic. Tidak ada dua orang yang membangun makna yang sama, karena kombinasi pengalaman dan pengetahuan sebelumnya akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Atas dasar keyakinan tersebut direkomendasikan bahwa pembelajaran perlu diletakkan dalam konteks yang kaya yang merefleksikan dunia nyata, dan berhubungan erat dengan konteks di mana pengetahuan akan digunakan. Singkatnya, pembelajaran perlu otentik. Seperti telah diuraikan di bagian depan, Pembelajaran Berbasis Proyek adalah salah satu model pembelajaran yang berlatar dunia otentik.

            Jonassen (1991), dan Brown, Collins dan Duguid (1988) juga berpendapat bahwa belajar terjadi secara lebih efektif di dalam konteks, dan bahwa konteks menjadi bagian penting dari basis pengetahuan yang berhubungan dengan proses belajar tersebut. Implikasinya di dalam pembelajaran adalah penciptaan lingkungan belajar yang riil, otentik dan relevan sebagai konteks belajar tertentu. Guru dan model pembelajaran yang diciptakannya berfokus pada pendekatan realistik yang memudahkan siswa belajar memecahkan masalah dunia nyata (Jonassen, 1991). Lingkungan belajar konstruktivistik yang dimaksud adalah: “a place where learners may work together and support each other as they use a variety of tools and information resources in their pursuit of learning goals and problem-solving activities (Wilson, 1995:27). Pembelajaran Berbasis Proyek juga merupakan pendekatan menciptakan lingkungan belajar yang realistik, dan berfokus pada belajar memecahkan masalah-masalah yang terjadi di dunia nyata.

            Pembelajaran Berbasis Proyek juga didukung oleh teori belajar eksperiensial. Seperti dikatakan William James bahwa belajar yang paling baik adalah melalui aktivitas diri sendiri, pengalaman sensoris adalah dasar untuk belajar, dan belajar yang efektif adalah holistik, dan interdisipliner (dalam Moore, 1999). Prinsip-prinsip ini juga diterapkan dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. Pebelajar mengendalikan belajarnya sendiri, mulai dari pengidentifikasian masalah yang akan dijadikan proyek sampai dengan mengevaluasi hasil proyek. Guru/dosen berperan sebagai pembimbing, fasilitator, dan partner belajar. Tema proyek yang dipilih juga bersifat interdisipliner, karena mengandung unsur berbagai disiplin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah dalam proyek yang dikerjakan itu. Apa yang dilakukan pebelajar dalam proses pembelajaran adalah pengalaman-pengalaman sensoris sebagai basis belajar. Ditegaskan oleh John Dewey bahwa pengalaman adalah elemen kunci dalam proses pembelajaran (Moore, 1999; Knoll, 2002). Dewey memandang belajar sebagai “process of making determinate the indeterminate experience”. Makna dari berbagai pengalaman adalah sebuah hubungan yang saling tergantung antara apa yang dibawa oleh pebelajar dalam situasi belajar dan apa yang terjadi di dalam situasi itu. Berdasarkan pengetahuan yang diturunkan dari pengalaman sebelumnya, pada pengalaman baru orang membangun pengetahuan baru (Billet, 1996). Kerja proyek dapat dipandang sebagai proses belajar memantapkan pengalaman yang belum mantap, memperluas pengetahuan yang belum luas, dan memperhalus pengetahuan yang belum halus, sebagaimana juga dikatakan oleh Marzano (1992) bahwa belajar melalui pengalaman nyata (misalnya, investigasi dan pemecahan masalah-masalah nyata) dapat memperluas dan memperhalus pengetahuan.

            Berdasarkan teori-teori belajar konstruktivistik yang dirujuk di atas, maka Pembelajaran Berbasis Proyek dapat disimpulkan memiliki kelebihan-kelebihan sebagai lingkungan belajar: (1) otentik-kontekstual (goal-directed activities) yang akan memperkuat hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatarinya; (2) mengedepankan otonomi pebelajar (self-regulation) dan guru/dosen sebagai pembimbing dan partner belajar, yang akan mengembangkan kemampuan berpikir produktif; (3) belajar kolaboratif yang memberi peluang pebelajar saling membelajarkan yang akan meningkatkan pemahaman konseptual maupun kecakapan teknikal; (4) holistik dan interdisipliner; (5) realistik, berorientasi pada belajar aktif memecahkan masalah riil, yang memberi kontribusi pada pengembangan kecakapan pemecahan masalah; dan (6) memberikan reinforcement intrinsik (umpan balik internal) yang dapat menajamkan kecakapan berpikir produktif.





I.       Perbedaan Kelas Projet Based Learning dengan Lingkungan Kelas Tradisional

          Dalam peranan seorang guru juga telah tampak adanya perbedaan, berikut ini  disajikan perbedaan kelas pembelajaran yang berbasis proyek dengan kelas tradisional pada tabel 1 seperti di bawah ini :


Tabel 1 Perbedaan Kelas Projet Based Learning
dengan Lingkungan Kelas Tradisional

Kelas Projet Based Learning
Kelas Tradisional
Kurikulum
·         Mengacu pada kurikulum yang baku
·         Cakupan materi yang lebar
·         Menghafal materi tanpa berpikir fakta
Kurikulum
·         Jangka panjang, interdisciplinary, pelajar sebagai pusat perhatian dalam menyimak isu dunia nyata yang menarik perhatian pelajar
·         Adanya investigasi dan riset yang mendalam
·         Mahami proses, mendorong kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan penemuan

Kelas
·         Pengajaran dilakukan dengan penempatan pelajar pada tempat duduk yang rapih dan kaku dalam format baris dan kolom
·         Berupaya merangkul semua orang bersama-sama, belajar di langkah dan bobot yang sama
·         Berusaha secara individu untuk mencapai target

Kelas
·         Pelajar duduk secara fleksibel, santai dan berkolaborasi di dalam tim
·         Petunjuk pembelajaran fleksibel, banyak perbedaan tingkat dan topik yang dipelajari oleh tiap pelajar
·         Mendorong pelajar bekerja dalam tim yang heterogen untuk mencapai target

Pengajar
Pengajar sebagai pemberi ceramah/ arasumber dan tenaga ahli
Pengajar
Pengajar sebagai fasilitator dan menyediakan sumber daya

Pelajar
Bergantung kepada pengajar dalam menyelesaikan intruksi
Pelajar
·         Bertanggung jawab atas diri sendiri, menggambarkan tugasnya sendiri dan bekerja sebagai anggota suatu tim untuk waktu tertentu dengan suatu target
·         Pengajar berfungsi sebagai pemandu

Teknologi
Memberikan reward bagi yang menyelesaikan tugas dan sebaliknya memberikan hukuman bagi yang tidak menguasai konsep
Teknologi
Menggunakan alat yang terintegrasi dalam semua aspek kelas, seperti dalam pemecahan masalah, komunikasi, meneliti hasil, dan mengumpulkan informasi.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar